20 Sunnah Yang Jarang Dikerjakan Kaum Muslimin

Sunnah adalah segala sesuatu yang diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam baik perkataan, perbuatan, ataupun persetujuan. Sunnah juga berarti sesuatu yang pelakunya mendapat pahala dan tidak ada dosa bagi yang meninggalkannya. Di antara perbuatan sunnah yang jarang dilakukan kaum muslimin adalah sebagai berikut:

1. Mendahulukan Kaki Kanan Saat Memakai Sandal Dan Kaki Kiri Saat Melepasnya

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallambersabda, “Jika kalian memakai sandal maka dahulukanlah kaki kanan, dan jika melepaskannya, maka dahulukanlah kaki kiri. Jika memakainya maka hendaklah memakai keduanya atau tidak memakaikeduanya sama sekali.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

2. Menjaga Dan Memelihara Wudhu

Diriwayatkan dari Tsauban Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,“Istiqamahlah (konsistenlah) kalian semua (dalam menjalankan perintah Allah) dan kalian tidak akan pernah dapat menghitung pahala yang akan Allah berikan. Ketahuilah bahwa sebaik-baik perbuatan adalah shalat, dan tidak ada yang selalu memelihara wudhunya kecuali seorang mukmin.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

3. Bersiwak (Menggosok Gigi dengan Kayu Siwak)

Diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu Anha bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,“Siwak dapat membersihkan mulut dan sarana untuk mendapatkan ridha Allah.” (HR. Ahmad dan An-Nasa`i)

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam juga bersabda, “Andaikata tidak memberatkan umatku niscaya aku memerintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali hendak shalat.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Bersiwak disunnahkan setiap saat, tetapi lebih sunnah lagi saat hendak berwudhu, shalat, membaca Al-Qur`an, saat bau mulut berubah, baik saat berpuasa ataupun tidak, pagi maupun sore, saat bangun tidur, dan hendak memasuki rumah.

Bersiwak merupakan perbuatan sunnah yang hampir tidak pernah dilakukan oleh banyak orang, kecuali yang mendapatkan rahmat dari Allah. Untuk itu, wahai saudaraku, belilah kayu siwak untuk dirimu dan keluargamu sehingga kalian bisa menghidupkan sunnah ini kembali dan niscaya kalian akan mendapatkan pahala yang sangat besar.

4. Shalat Istikharah

Diriwayatkan dari Jabir Radhiyallahu Anhu bahwa ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallammengajarkan kepada kita tata cara shalat istikharah untuk segala urusan, sebagaimana beliau mengajarkan surat-surat Al-Qur`an kepada kami.” (HR. Al-Bukhari)

Oleh karena itu, lakukanlah shalat ini dan berdoalah dengan doa yang sudah lazim diketahui dalam shalat istikharah.

5. Berkumur-Kumur Dan Menghirup Air dengan Hidung Dalam Satu Cidukan Telapak TanganKetika Berwudhu

Diriwayatkan dari Abdullah bin Zaid Radhiyallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallamberkumur-kumur dan menghirup air dengan hidung secara bersamaan dari satu ciduk air dan itu dilakukan sebanyak tiga kali. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

6. Berwudhu Sebelum Tidur Dan Tidur Dengan Posisi Miring Ke Kanan

Diriwayatkan dari Al-Barra’ bin Azib Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallambersabda, “Jika kamu hendak tidur, maka berwudhulah seperti hendak shalat, kemudian tidurlah dengan posisi miring ke kanan dan bacalah, ‘Ya Allah, Aku pasrahkan jiwa ragaku kepada-Mu, aku serahkan semua urusanku kepada-Mu, aku lindungkan punggungku kepada-Mu, karena cinta sekaligus takut kepada-Mu, tiada tempat berlindung mencari keselamatan dari (murka)-Mu kecuali kepada-Mu, aku beriman dengan kitab yang Engkau turunkan dan dengan nabi yang Engkau utus’. Jika engkau meninggal, maka engkau meninggal dalam keadaan fitrah. Dan usahakanlah doa ini sebagai akhir perkataanmu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

7. Berbuka Puasa Dengan Makanan Ringan

Diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallamberbuka puasa sebelum shalat maghrib dengan beberapa kurma basah. Jika tidak ada maka dengan beberapa kurma kering. Jika tidak ada, maka beliau hanya meminum beberapa teguk air.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan At-Tirmidzi)

8. Sujud Syukur Saat Mendapatkan Nikmat Atau Terhindar Dari Bencana

Sujud ini hanya sekali dan tidak terikat oleh waktu. Diriwayatkan dari Abu Bakrah Radhiyallahu Anhu ia berkata, “Jika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mendapatkan sesuatu yang menyenangkan atau disampaikan kabar gembira maka beliau langsung sujud dalam rangka bersyukur kepada Allah.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

9. Tidak Begadang Dan Segera Tidur Selesai Shalat Isya`

Hal ini berlaku jika tidak ada keperluan saat begadang. Tetapi jika ada keperluan, seperti belajar, mengobati orang sakit dan lain-lain maka itu diperbolehkan. Dalam hadits shahih dinyatakan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak suka tidur sebelum shalat isya` dan tidak suka begadang setelah shalat isya`.

10. Mengikuti Bacaan Muadzin

Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr Radhiyallahu Anhu bahwa dia mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Jika kalian mendengar adzan, maka ucapkanlah seperti yang diucapkan oleh muadzin, kemudian bershalawatlah kepadaku. Barangsiapa yang bershalawat kepadaku, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali. Kemudian mintakan wasilah untukku, karena wasilah merupakan tempat di surga yang tidak layak kecuali bagi seorang hamba Allah dan aku berharap agar akulah yang mendapatkannya. Barangsiapa yang memintakan wasilah untukku maka ia akan mendapatkan syafaatku (di akhirat kelak).” (HR. Muslim)

11. Berlomba-Lomba Untuk Mengumandangkan Adzan, Bersegera Menuju Shalat, Serta Berupaya Untuk Mendapatkan Shaf Pertama.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallambersabda, “Andaikata umat manusia mengetahui pahala di balik adzan dan berdiri pada shaf pertama kemudian mereka tidak mendapatkan bagian kecuali harus mengadakan undian terlebih dahulu niscaya mereka membuat undian itu. Andaikata mereka mengetahui pahala bergegas menuju masjid untuk melakukan shalat, niscaya mereka akan berlomba-lomba melakukannya. Andaikata mereka mengetahui pahala shalat isya dan subuh secara berjamaah, niscaya mereka datang meskipun dengan merangkak.”(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

12. Meminta Izin Tiga Kali Ketika Bertamu

Jika tidak mendapatkan izin dari tuan rumah, maka konsekuensinya anda harus pergi. Namun, banyak sekali orang yang marah-marah jika mereka bertamu tanpa ada perjanjian sebelumnya, lalu pemilik rumah tidak mengizinkannya masuk. Mereka tidak bisa memaklumi, mungkin pemilik rumah memiliki uzur sehingga tidak bisa memberi izin. Allah Ta’ala berfirman, “Dan jika dikatakan kepadamu, “Kembalilah!” Maka (hendaklah) kamu kembali. Itu lebih suci bagimu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. An-Nuur: 28)

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Adab meminta izin itu hanya tiga kali, jika tidak diizinkan maka seseorang harus pulang.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

13. Mengibaskan Seprai Saat Hendak Tidur

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallambersabda, “Jika kalian hendak tidur, maka hendaknya dia mengambil ujung seprainya, lalu mengibaskannya dengan membaca basmallah, karena dia tidak mengetahui apa yang akan terjadi di atas kasurnya. Jika dia hendak merebahkan tubuhnya, maka hendaknya dia mengambil posisi tidur miring ke kanan dan membaca, “Maha Suci Engkau, ya Allah, Rabbku, dengan-Mu aku merebahkan tubuhku, dan dengan-Mu pula aku mengangkatnya. Jika Engkau menahan nyawaku, maka ampunkanlah ia, dan jika Engkau melepasnya, maka lindungilah ia dengan perlindungan-Mu kepada hamba-hamba-Mu yang shalih.” (HR. Muslim)

14. Meruqyah Diri Dan Keluarga

Diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu Anha bahwa ia berkata, “Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam senantiasa meruqyah dirinya dengan doa-doa perlindungan ketika sakit, yaitu pada sakit yang menyebabkan wafatnya beliau. Saat beliau kritis, akulah yang meruqyah beliau dengan doa tersebut, lalu aku mengusapkan tangannya ke anggota tubuhnya sendiri, karena tangan itu penuh berkah.” (HR. Al-Bukhari)

15. Berdoa Saat Memakai Pakaian Baru

Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu Anhu ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam jika mengenakan pakaian baru, maka beliau menamai pakaian itu dengan namanya, baik itu baju, surban, selendang ataupun jubah, kemudian beliau membaca, “Ya Allah, hanya milik-Mu semua pujian itu, Engkau telah memberiku pakaian, maka aku mohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan tujuannya dibuat, dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya dan keburukan tujuannya dibuat.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)

16. Mengucapkan Salam Kepada Semua Orang Islam Termasuk Anak Kecil

Diriwayatkan dari Abdullah bin Amru Radhiyallahu Anhu, ia menceritakan, ”Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, ‘Apa ciri keislaman seseorang yang paling baik?’Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjawab, ‘Kamu memberikan makanan (kepada orang yang membutuhkan) dan mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan orang yang tidak kamu kenal.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Diriwayatkan dari Anas Radhiyallahu Anhu bahwa ia menuturkan, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berjalan melewati kumpulan anak-anak, lalu beliau mengucapkan salam kepada mereka semua.”(HR. Muslim)

17. Berwudhu Sebelum Mandi Besar (Mandi Junub)

Diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu Anhu, “Jika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ingin mandi besar, maka beliau membasuh tangannya terlebih dahulu, lalu berwudhu seperti hendak shalat, kemudian memasukkan jemarinya ke airdan membasuh rambutnya dengan air. Selanjutnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menuangkan air tiga ciduk ke kepalanya dengan menggunakan tangannya, lalu mengguyur semua bagian tubuhnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

18. Membaca ‘Amin’ Dengan Suara Keras Saat Menjadi Makmum

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallambersabda, “Jika imam membaca “Amin” maka kalian juga harus membaca “Amin” karena barangsiapa yang bacaan Amin-nya bersamaan dengan bacaan malaikat maka diampunkan dosa-dosanya yang telah berlalu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa kaum salafus-shalih mengeraskan bacaan “Amin” sehingga masjid bergemuruh.

19. Mengeraskan Suara Saat Membaca Zikir Setelah Shalat

Di dalam kitab Shahih Al-Bukhari disebutkan, “Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma mengatakan, mengeraskan suara dalam berzikir setelah orang-orang selesai melaksanakan shalat wajib telah ada sejak zaman Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Ibnu Abbas juga mengatakan, “Aku mengetahui orang-orang telah selesai melaksanakan shalat karena mendengar zikir mereka.” (HR. Al-Bukhari)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Disunnahkan mengeraskan suara saat membaca tasbih, tahmid dan takbir setelah shalat.”

Sunnah ini tidak dilakukan di banyak masjid sehingga tidak dapat dibedakan apakah imam sudah salam atau belum, karena suasananya sepi dan hening. Caranya adalah imam dan makmum mengeraskan bacaan tasbih (Subhanallah), tahmid (Alhamdulillah) dan takbir (Allahu Akbar) secara sendiri-sendiri, bukan satu komando dan satu suara. Adapun mengeraskan suara ketika berzikir dengan satu komando, satu suara dan dipimpin oleh imam maka dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama. Ada yang mengatakan sunnah secara mutlak, ada yang memandang sunnah dengan syarat-syarat tertentu dan ada pula yang mengatakan bahwa zikir berjamaah adalah perbuatan bid’ah.

20. Membuat Pembatas Saat Sedang Shalat Fardhu Atau Shalat Sunnah

Diriwayatkan dari Abu Said al-Kudri Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallambersabda, “Ketika kalian hendak shalat, maka buatlah pembatas di depannya dan majulah sedikit, dan janganlah membiarkan seseorang lewat di depannya. Jika ada orang yang sengaja lewat di depannya, maka hendaknya dia menghalanginya karena orang itu adalah setan.” (HR. Abu dawud dan Ibnu Majah)

Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu Anhuma, ia berkata, “Rasulullah menancapkan tombak di depannya, lalu shalat di belakang tongkat itu.” (HR. Al-Bukhari)

Sunnah ini sering diabaikan, terutama saat melakukan shalat sunnah.

Wahai saudaraku! Jadilah seperti orang yang diungkapkan oleh Abdurrahman bin Mahdi, “Aku mendengar Sufyan berkata, ‘Tiada satu hadits pun yang sampai kepadaku kecuali aku mengamalkannya meskipun hanya sekali.”

Muslim bin Yasar mengatakan, “Aku pernah melakukan shalat dengan memakai sandal padahal shalat tanpa sandal sangat mudah dilakukan. Aku melakukan itu hanya ingin menjalankan sunnah RasulShallallahu Alaihi wa Sallam.”

Ibnu Rajab menuturkan, “Orang yang beramal sesuai ajaran Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,meskipun amal itu sangat kecil, maka itu akan lebih baik daripada orang yang beramal tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam meskipun dia sangat bersungguh-sungguh.”

Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang mengikuti sunnah rasul-Mu dan mengikuti jejaknya. Ya Allah, kumpulkanlah kami dan kedua orang tua kami bersamanya di surga wahai Tuhan Yang Maha Pengasih.

Mencintai Orang-Orang Lemah

Ibnul Qayyim dalam Raudahatul Muhibbin menceritakan tentang Abu Bakar ra bahwa ketika shahabat Abu Bakar diangkat menjadi khalifah, disebutkan setiap hari sesudah menunaikan shalat shubuhnya, dia selalu keluar. Kepergiannya ini diperhatikan oleh Umar Ibn Khattab.

Ternyata Abu Bakar pergi ke sebuah kemah yang ada di salah satu pekampungan kaum muslimin, dan Umar mengikutinya. Setelah Abu Bakar keluar dari kemah itu, kemudian Umar masuk ke dalam kemah itu, tanpa sepengetahuan Abu Bakar. Ternyata di dalamnya Umar mendapatkan seorang wanita yang tua renta, dan tidak memiliki keluarga lagi. Umar pun bertanya, “Wahai hamba perempuan Allah, siapakah engkau?”. Wanita tua renta itu menjawab, “Aku seorang nenek yang tunanetra, lemah, lagi tak berdaya, serta tanpa keluarga”, jawabnya. “Lalu apa keperluan orang yang selalu datang kepadamu ini?”. Ia menjawab, “Aku tidak mengenalnya”, ucapnya. Umar bertanya, “Mengapa dia datang kemari?”. Wanita renta menjawabnya, “Dialah yang membuat makanan bagi kami, membersihkan rumah, dan memerah susu kambing buat kami”, tambah wanita renta itu. Mendengaqr jawaban wanita itu, Umar menangis sejadi-jadinya, dan mengeluarkan kata-kata, “Wahai Abu Bakar, kalau demikian, engkau akan membaut mereka yang diangkat menjadi khalifah sesudahmu benar-benar kepayahan (untuk mengikuti langkahmu).

Demi Allah, hal ini benar-benar menggambarkan ketaqwaan yag sesungguhnya, yang tidak pernah akan lagi yang dapat menyamainya. Termasuk ketaqwaan dan memotivasi diri untuk mengamalkannya adaslah membaca perjalanan hidup kaum salaf yang ditinggikan kedudukannya oleh Allah Ta’ala. “Hai Jarir mereka itulah bapak moyangku,maka sebutkanlah kepadaku orang-orang yang semisal mereka, bila kita berada dalam pertemuan yang besar!”.

Rasulullah shallahu alaihi wa sallam, pernah bertanya, “Apakah ada seseorang diantara kalian yang puasa hari ini? Abu Bakar menjawab, “Saya!”. Rasul bertanya, “Adakah seseorang diantara kalian lyang mengeluarkan shadaqah pada hari ini?”.Abu Bakar menjawab, “Saya!”. Rasul shallahu alaihi wa sallam, bertanya, “Adakah seseorang diantara kalian yang menjenguk orang sakit?”. Abu Bakar kembali menjawab,”Saya!”. Maka Rasulullah shallahu alaihi wa sallam, bersabda, “Tidak lah sekali-kali semua pekerti ini terhimpun dalam diri seseorang dalam hari yang sama, melainkan dia pasti masuk surga”. (HR.Muslim).

Ketaqwaan yang dilakukan Abu Bakar ra ini merupakan bentuk manifestasi dari interpretasi terhadap makna taqwa, bukan sekadar teori yang membuat mulut kita berbuih, dan menakutkan kita. Sekarang kita hanya bisa mengadu kepada Allah tentang realita yang oleh keadaan. Di mana kehidupan yang ada dipenuhi dengan berbagai bentuk kezaliman terhadap umat Islam.

Seorang tabi’in kepada Sufyan at-Tsauri, mengatakan, “Wahai Abu Sa’id, para shahabat telah pergi dengan mengendari kuda pilihan, sedang kita pergi dengan mengendarai keledai”.

Sufyan Tsauri menjawab, “Demi Allah, kita benar-benar dapat bergabung dengan mereka selama kita menempuh jalanyang sama dengan mereka, meskipun kendaraan kita yang kita tunggangi adalah keledai, tetapi dengan syarat hendaknya kita tetap pada jalur, arah, dan jalan yang sama seperti yang ditempuh oleh mereka.

“Ketika Nabi shallahu alaihi wa sallam, sedang berbicara kepada para shahabatnya, tiba-tiba berdirilah seorang lelaki Arab pedalaman yang langsung bertanya, “Bilakah Kiamat terjadi?”. Rasulullah balik bertanya, “Bekal apakah yang telah engkau persiapkan untuknya?”. Lalu, lelaki itu menjawab, “Aku mempersiapkan untuknya dengan banyak shalat, banyak puasa, banyak shadaqah, tetapi aku mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Nabi shallahu alaihi wa sallam, bersabda, “Engkau akan dihimpunkan bersama dengan yang engkau cintai”. (HR. Bukhari-Muslim).

Imam Syafi’i telah mengatakan dalam bait-bait syair, ” Aku mencintai orang-orang yang shalih,meskipun diriku bukan dari kelangan mereka, mudah-mudahan aku mendapatkan syafa’at , karena mereka. Dan aku benci terhadap orang-orang yang perniagaannya hanyalah kedurhakaan, meskipun kita mempunyai barang dagangan yang sama”.

Banyak kalangan orang yang berupaya melupakan kesalahan-kesalahannya, tetapi justru yang mereka rasakan adalah kepedihan, kecemasan, kekecewaan, keputusasaan, dan semakin jauh dari Yang Maha Esa, karena sesungguhnya orang yang makin mendekatkan dirinya kepada Allah, niscaya Allah mendekatkan dan memberi hadiah. Sebalikknya, barang siapa menjauh dari-Nya, Allah akan membuatnya sempit. Wallahu’alam.

HAMKA : Nasehat Kehidupan

Kehidupan itu laksana lautan: ” Orang yang tiada berhati-hati dalam mengayuh perahu, memegang kemudi dan menjaga layar, maka karamlah ia digulung oleh ombak dan gelombang. Hilang di tengah samudera yang luas. Tiada akan tercapai olehnya tanah tepi”.
Pepatah orang Makassar: ” Anak lelaki tak boleh dihiraukan panjang. Hidupnya ialah untuk berjuang. Jikalau perahunya telah ia kayuh ketengah, ia tak boleh bersurut pulang. Meskipun bagaimana besar gelombang. Biarkan kemudi patah, biarlah layer robek. Itu lebih mulia (baginya) dari pada membalik haluan pulang.
Wahai diriku teruslah maju
Di tengah jalan jangan berhenti
Sebelum ajal janganlah mati
Keredhaan Allah itulah tuju
Kalau berhembus angin selatan
Jangan lekas riang gembira
Kalau bergoncang tali bubutan
Jangan lekas berputus asa
Selama nyala iman di dada
Panah tujuan tidaklah hilang
Tuhan Allah tetaplah ada
Pandang tenang hadap ke muka.
Hilang segala kepayahan
Hilang segala kepenatan
Lupa segala penderitaan
Sesak nafasku kala mendaki, keringat mengalir sampai ke kaki.
Kita masih hidup, udara masih kita hirup dan nafas belum redup.
Kalau Allah tidak izinkan kita lagi untuk tinggal di dunia ini, tentu kita mati. Tetapi kalau masih beleh hidup, (maka) kita akan makan.percayalah.
Taqdir itu bukanlah dielakkan melainkan dicari.
Pendirian hidup (adalah) lebih baik kita memperbaiki sangka kepada tuhan.
Bahagialah aku dikala tidur di jirat (di kubur)
Bercahaya mukaku di akhirat
Dari kanan aku menerima surat
…aku menyerah kepada Engkau (wahai) Tuhanku dengan tidak bersyarat.

Melangkahlah…Dan Allah Berikan Rezeki dari Arah yang Tiada Disangka-Sangkanya

At Tanukhi dalam bukunya Al Faraj Ba’dasy Siddah, menuliskan cerita, ada seorang lelaki yang sedang buntu, semua pintu rezeki tertutup baginya. Bahkan suatu hari dia dan keluarganya hingga tidak bisa makan karena tidak ada apa apa di rumahnya. Katanya,” Pada hari pertama, saya dan keluarga kelaparan. Pada hari kedua, juga sama. Tatkala matahari hamper tenggelam isteri saya berkata kepada saya,”Pergilah kamu, pergi dan carilah rezeki buat kami atau apa saja yang bisa dimakan, sebab kali ini kita hamper mati”.
Saya pun teringat kepada seorang wanita kerabat dekat saya. Saya ceritakan perihal yang sedang kami alami, wanita itu berkata,” Tapi dirumah ini tidak ada apa apa juga kecuali ikan yang sudah membusuk.” Kata saya, “Berikan itu kepada kami , karena kami hampir mati kelaparan.”
Lalu ikan itu saya bawa, dan membelah perutnya. Ternyata didalam perut ikan itu terdapat mutiara. Dan mutiara itu saya jual dengan 1000 dinar. Hal itu, kemudian saya beritahukan kepada kerabat wanita saya tadi. Katanya, “ Saya tidak akan mengambil apa apa kecuali bagian saya.” Setelah itu saya menjadi lapang. Rumah saya lengkapi dengan perabotan, kehidupanku mulai membaik, dan jalan rezekiku menjadi semakin lapang, ini semua adalah kebaikan Allah Subhanallah wa Ta’ala, tidak lain.
Dan, apa saja nikmat yang ada pada kamu , maka dari Allah lah datangnya (QS An Nahl :52)
Ingatlah, ketika kamu memohon pertolongan kepada Rabb mu, lalu diperkenankanNya bagimu…(QS Al Anfal :9)
(Aidh Al Qarni)

Bila Pejabat Menjadi Pencuri dan Perampok

Seorang pria memangku jabatan tinggi di beberapa instansi penting, karena ada kepentingan pribadi maka dia tidak melakukan kebaikan maupun mencegah kejahatan. Dia juga tidak mengetahui tugas dan fungsinya kecuali hanya sebagai “mandor”. Saya memprotes dengan kritikan pedas dan menghukuminya dengan keras.

Tetapi seseorang berkata kepada saya,” Kadang kadang saya melihat dia keluar masuk masjid.” Lalu saya langsung mengemukakan sebuah hadis yang masyur,”Tidak dikatakan beragama bagi orang yang tidak amanah dan tidak dikatakan beragama bagi orang yang tidak memenuhinya.” Kemudian orang itu bertanya lagi,” Apa hubungan hadis tersebut dengan kelalaian orang itu dalam jabatannya?” Lalu saya menjawab,” Masa kita orang muslim tidak tahu apa itu pemenuhan janji dan apa itu amanah. Itulah akibat kita tidak mau memperhatikan apa yang telah ditetapkan oleh Allah tentang hakikat iman dan akibat kita tidak pernah memperdulikan firman Allah :

Dan orang orang yang memelihara amanat amanat yang dipikulnya dan janjinya (QS Al Mukminun :8)

Tugas jabatan, di lembaga manapun. Harus dipenuhi baik terhadap Negara maupun masyarakat, dengan cara melaksanakan pekerjaan sesuai dengan batas batasnya serta mematuhi peraturan yang telah ditetapkan.

Seseorang tidak berhak mendapatkan gaji kecuali jika telah menunaikan pekerjaan yang telah menjadi tanggung jawabnya. Maka apa alasan dia menghalalkan pengambilan gaji jika tidak memenuhi kewajibannya? Jika orang itu malas, menyulitkan orang lain dan perusahaan, benci terhadap pekerjaannya, melampaui batas hak haknya serta memperlambat tugasnya dalam mengatur urusan dengan menampakkan wajah muram, maka dialah orang yang berkhianat dan melanggar janji serta memakan barang barang yang  haram. Ketahuilah setiap daging yang tumbuh dari barang barang yang haram adalah paling berhak untuk hidup di neraka.

Tidak ada yang namanya birokrasi memandulkan rencana rencana besar dan merusak instansi instansi penting, kecuali jika moral penghianat pegawainya tersebar sampai ke sudut sudut negeri.

Muhammad Rasulullah SAW mengangkat para pegawai yang amanah dan mengharapkan dari mereka yang mampu dan sadar untuk mengawasinya. Serta meminta kepada orang orang lemah untuk tidak menuntut dan menghalanginya. Selain itu beliau juga memperhatikan pertanggungjawaban yang besar, yang ada konsekwensi dunia dan akhiratnya. Bahkan lebih dari itu, paman beliau Hamzah Ra dan juga sahabatnya Abu Dzar Ra pernah mengatakan, “Sungguh seorang laki laki telah mendekat untuk mengharapkan kejatuhan harta, padahal dia tidak menolong manusia sedikitpun.”

Jabatan yang tinggi atau yang rendah jangan menjadi alat untuk mengangkat dan menyenangkan sebagian orang. Jabatan merupakan sarana untuk kelangsungan sebuah Negara, baik sekarang atau pun masa akan datang. Orang yang mankir dari sebuah pekerjaan dan tidak memenuhinya tergolong pencuri dan perampok. Mereka adalah bencana bagi dunia dan akhirat. – Syeikh Muhammad Al Ghazali-

Semuanya pun Akan Mati, Mari Buat Indah Dengan Seni Kematian

Dan sungguh kalau kamu gugur di jalan Allah atau meninggal, tentulah ampunan Allah dan rahmatNya lebih baik dari harta rampasan yang mereka kumpulkan. Dan sungguh jika kamu meninggal atau gugur, tentulah kepada Allah saja kamu dikumpulkan (QS Ali Imran 157-158)

Kematian adalah seni, terkadang seni yang indah dapat dirasakan meskipun pahit. Bisa jadi ia adalah seni terindah apabila dikreasi oleh tangan tangan yang mahir. Al Quran telah memaparkannya bagi orang orang mukmin dengan pemaparan yang mulia membuat mereka rindu untuk menggapainya, lebih mencintainya dibandingkan orang yang mencintai kehidupan. Setiap orang berbeda memperlakukan apa yang dirindukannya.

Kaum muslimin saat ini, tidak akan menjadi lebih baik dari kondisi sekarang kecuali jika mereka kembali kepada Al Quran tentang masalah kematian, menghadapinya sebagai sebuah seni, bahkan sebagai suatu seni yang sangat indah.

Al Quran memaparkan tentang kematian kepada kaum mukminin sebagai akhir kehidupan yang pendek lagi fana dan melelahkan ini. Kematian menyambut kehidupan yang tenang penuh kebahagiaan,kesejahteraan dan kenikmatan. Didalamnya terdapat apa yang tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga dan tidak pernah terlintas dalam benak manusia berupa kenikmatan dan kemuliaan. Semua itu disediakan bagi orang yang mengetahui bagaimana berbuat baik dengan ilmunya dalam kehidupan, juga bagi orang yang berbuat baik dalam memilih metode kematian.

Al Quran lalu memaparkan bahwa kematian adalah takdir yang telah ditentukan, lari dan hati hati tidak akan menyelamatkan darinya. Tak seorangpun yang akan dapat lari. Setiap orang akan mati menurut ketentuan Allah yang telah Dia takdirkan. Tetapi mereka semua berbeda cara kematiannya.

Orang orang mukmin generasi pertama telah memahami hakikat seni ini. Mereka mencintai kematian, karena itu mereka dianugrahi kehidupan. Hal ini tercermin dalam ungkapan abadi Abu Bakar Ra, “ Wahai Khalid, bersungguh sungguhlah mencari kematian, niscaya engkau dianugrahi kehidupan.”

Hal ini juga tercermin dalam ungkapan Ali bin Abi Thalib Ra,”Demi Allah, sungguh putra Abu Thalib lebih mencintai kematian dibandingkan bayi yang mencintai susu ibunya.”

Wahai kamum muslimin ! saat ini kalian berada di gerbang tahun baru. Sekiranya anda sambut jiwa jiwa yang berada di antara rusuk anda saat ini, mencintai dunia dan takut mati, lari dari medan jihad, maka anda tidak akan sampai kepada apapun jua.

Sekiranya kalian mengubah jiwa kalian, mengganti sifat pengecut dan lemah yang bercokol di hati kalian, lalu berubah menjadi cinta kematian di jalan kebenaran, menggunakan seni dalam sarana dan metode kematian, maka anda tidak diragukan dapat sampai dengan izin Allah SWT pada kemenangan dunia dan abadi di akherat.

- Syeikh hasan Al Banna -

Taubat Nasuha


Dari Abu Abdurrahman, Abdullah bin Umar bin Khaththab ra. Berkata, “Saya mendengar Rasulullah saw. Bersabda, ‘Dulu sebelum kamu, ada tiga orang berjalan-jalan kemudian mereka mendapatkan sebuah gua yang dapat dimanfaatkan untuk berteduh, maka merekapun masuk ke dalamnya. Kemudian tiba-tiba ada batu dari atas bukit yang menggelinding dan menutupi pintu gua itu sehingga mereka tidak dapat keluar.
Salah seorang diantara mereka berkata, ‘Sesungguhnya tidak ada yang dapat menyelamatkan kamu sekalian dari bencana ini kecuali bila kamu sekalian berdoa kepada Allah dengan menyebutkan amal-amal shalih yang pernah kalian perbuat.’
Salah seorang dari mereka menimpali, ‘Ya Allah saya mempunyai ayah ibu yang sudah tua renta, saya biasa mendahulukan memberi minuman susu kepada keduanya sebelum saya memberikannya kepada keluarga dan budak saya. Pada suatu hari saya terlambat pulang dari mencari kayu dan saya menemui keduanya sudah tidur, saya terus memerah susu untuk persediaan minum keduanya. Karena saya mendapati mereka berdua telah tidur maka saya pun enggan untuk membangunkan mereka. Kemudian saya berjanji tidak akan memberi minuman susu itu baik kepada keluarga maupun kepada budak sebelum saya memberi minum kepada ayah bunda.
Saya menunggu ayah bunda, hingga terbit fajar barulah keduanya bangun sementara anak-anakku menangis, mereka mengelilingi kakiku. Setelah mereka bangun, kuberikan minuman susu kepada keduanya. Ya Allah, jika saya berbuat seperti itu karena mengharapkan wajahMu, maka geserkanlah batu yang menutupi gua ini.’ Maka bergeserlah batu itu tetapi mereka belum bisa keluar dari gua tersebut.
Yang lain berkata, ‘Ya Allah, sesungguhnya saya mempunyai saudara sepupu yang sangat saya cintai.’ Pada riwayat yang lain dikatakan, ‘Saya sangat mencintainya sebagaimana lazimnya orang laki-laki mencintai seorang perempuan, kemudian saya ingin berbuat zina dengannya tetapi ia selalu menolaknya. Selang beberapa tahun ia tertimpa kesulitan kemudian datang kepada saya dan saya berikan kepadanya 120 dinar, dengan syarat ia harus berzina denganku, dan ia pun setuju.
Ketika saya sudah menguasainya, pada riwayat lain dikatakan, kemudian ketika saya berada di antara kedua kakinya dia berkata, ‘Takutlah kamu kepada Allah dan jangan kau melakukannya kecuali dengan cara yang benar (nikah dahulu).’ Kemudian saya meninggalkannya, padahal dia adalah orang yang sangat saya cintai dan saya telah merelakan emas (dinar) yang saya berikan kepadanya. Ya Allah, jika saya berbuat seperti itu karena mengharapkan ridhaMu, geserkanlah batu yang menutupi gua ini.’ Maka bergeserlah batu itu tetapi mereka belum bisa keluar dari gua itu.
Orang yang ketiga berkata, ‘Ya Allah, saya memperkerjakan beberapa karyawan dan semuanya saya gaji dengan sempurna kecuali ada seorang yang pergi meninggalkan saya dan tidak mau mengambil gajinya terlebih dahulu. Kemudian gaji itu saya kembangkan sehingga menjadi banyak.
Selang beberapa lama dia datang kepada saya dan berkata, ‘Wahai hamba Allah, berikanlah gaji saya yang dulu itu.’ Saya berkata, ‘Semua yang kamu lihat itu baik onta, sapi, kambing maupun budak yang mengembalakannya adalah gajimu.’ Ia berkata, ‘Wahai hamba Allah, janganlah engkau mempermainkan saya.’ Saya menjawab, ‘Saya tidak mempermainkan kamu.’ Kemudian dia mengambil semuanya dengan tidak meninggalkan sedikit pun. Ya Allah, jika saya berbuat itu karena mengharap ridhaMu, maka geserkanlah batu itu.’ Lalu batu itu bergeser dan mereka dapat keluar dari dalam gua.”
~ PELAJARAN YANG DAPAT DIPETIK:
1. Anjuran untuk memanjatkan doa pada saat-saat genting dan kritis, atas dasar melaksanakan perintah Allah.
وَقَالَ رَبُّكُلمُ اْدْعُونىِ أَسْتَجِبْ لَكُمْ
“Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepadaKu, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (Ghafir: 60)
2. Bertawassul dengan cara yang disyariatkan yakni dengan amal shalih.
3. Bahwa takwa itu sangat mempengaruhi kesuksesan seseorang terutama ketika berhadapan dengan situasi genting.
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ ,مَخْرَجًا
"Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (Ath-Thalaq: 2)
4. Keutamaan berbakti kepada orang tua, berbuat baik kepada keduanya dan lebih mendahulukan keduanya dari yang lain.
5. Keutamaan iffah dan menjauhkan diri dari segala yang haram.
6. Diperbolehkan ijarah, yaitu suatu aqad untuk memperoleh manfaat dalam waktu tertentu dengan bayaran setimpal, sebab dalil diperbolehkannya berasal dari al-Qur’an,
فَإِنْ أَرْضَعْنَ فَأَتُوهٌنَّ أُجُورَهُنَّ
“Kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu maka berikanlah kepada mereka upahnya.” (Ath-Thalaq: 6)
Dan dari as-Sunnah
ثَلَاثَةٌ أَنَا خَصْمُهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ : وَذَكَرَ مِنْهُمْ وَرَجُلٌ اسْتَأْجَرَ أَجِيرً فَاسْتَوْفَى مِنْهُ وَلَمْ يُعْطِ أَجْرَهُ
”Ada tiga golongan yang Aku (Allah) menjadi musuh mereka pada hari kiamat, di antaranya: Seseorang yang menyewa tenaga orang namun setelah terpenuhi ia tidak membayar upahnya.” (HR. Bukhari)
7. Keutamaan menepati janji
8. Keutamaan menunaikan amanah dan lapang dada dalam pergaulan.
9. Penetapan adanya karamah para wali sebagaimana pendapat Ahlus Sunnah wal Jamaah.
Kunjungi Web Kami www.minhajulmustaqim.co.cc
Bagi Saudara-saudari sekalian yang berkenan untuk membantu dakwah online, -Kajian Ilmu Agama (Quran, Hadist, Fiqih)- atau –minhajulmustaqim.co.cc- . Dapat membantu dengan mengirim pulsa ke nomor 085717579394, pulsa 100 perak pun akan dapat sangat membantu. Pulsa tersebut digunakan semata-mata untuk online, facebook, dan web kami.